Masih dalam suasana Tahun Baru

 TAHUN Baru 2000 (waktu itu) tinggal beberapa hari lagi. Bagi yang lebih memilih menghabiskan malam tahun baru di rumah, tetap dapat menikmati gempita beragam atraksi yang disuguhkan layar kaca. Pada malam itu, dunia pun (waktu itu) akan dapat melihat Indonesia melalui siaran langsung televisi. Sedangkan bagi yang ingin menciptakan momen khusus bersama handai taulan di luar rumah, kafe-kafe pun menyajikan beragam acara spesial.

SEBUT saja stasiun televisi RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Bersama 43 stasiun televisi lain yang mewakili negara masing-masing, RCTI (waktu itu) akan menayangkan "Millennium Day Broadcast" (MDB), program siaran langsung dari lokasi yang dianggap mengandung nilai sejarah dan budaya. Adalah WGBH-Boston, AS dan BBC-London yang menjadi penyelenggara MDB itu. Program khusus Global Television Event yang disiapkan 44 negara itu, selama 25 jam (waktu itu) akan ditayangkan ke seluruh dunia.

Ke-44 negara (waktu itu) akan tampil. Dimulai dari kawasan tak berpenghuni di Antartika sampai ke tarian ritual dari Zanzibar. Rangkaian siaran langsung itu (waktu itu) akan tersaji dalam 24 zona waktu dunia mengikuti perjalanan matahari mengelilingi dunia untuk pertama kalinya di tahun 2000. Pemirsa dapat menyaksikan tayangan 'The Great Wall' di China, Sphinx dan Pyramid di Mesir, Kuil Teotihuacan di Meksiko, Candi Borobudur dan Pura Gunung Kawi-Bali, di Indonesia, Kuil Matahari di Peru, Taj Mahal di India, hingga konser di atas pengeboran minyak lepas pantai, juga penampilan Roxette di Istana Raja Swedia, aksi Jean Michel Jarre dan Pieter Gabriel.

RCTI akan menayangkan program MDB itu pada hari Jumat, 31 Desember 1999 mulai pukul 22.30 hingga 03.00. Sebagai wakil Indonesia, RCTI akan mengisi program pada pukul 23.55 yang mengambil lokasi 'shooting' siaran langsung di Candi Borobudur. Sementara kesempatan kedua MDB akan digelar Sabtu, 1 Januari 2000 pukul 14.00-16.30, RCTI akan menyiarkan secara langsung tarian Sang Hyang Dedari dari Pulau Bali pada pukul 16.07.

Siaran langsung dari Candi Borobudur akan menyorot kawasan di wilayah candi tersebut. Kamadhatu adalah kawasan pertama yang mencerminkan keadaan manusia yang masih terbelenggu oleh sifat keserakahan (dunia hasrat). Rupadhatu adalah kawasan kedua yang mencerminkan keadaan manusia yang sudah menghindari segala macam keinginan tetapi masih terikat oleh hal-hal duniawi. Sedangkan kawasan ketiga adalah kawasan Arupadhatu yang mencerminkan keadaan manusia yang telah mencapai kesempurnaan dan bebas dari ikatan keduniawian (nirwana).

Di bagian dasar atau Kamadhatu, terdapat sisi candi yang terbuka sebagai relief yang disebut Karwawibangga. Di situ, terdapat 160 panel yang menggambarkan karma akibat dari perilaku hasrat manusia. Diilhami relief ini, penari Sardono W Kusumo menampilkan tarian karyanya dengan iringan musik yang ditata oleh Dotty Nugroho. Konsep ini diangkat oleh produser Jay Subiyakto untuk mengingatkan, bahwa sejak berabad lalu manusia telah diingatkan, perilaku buruk akan berdampak tidak baik.

Ada pula siaran langsung dari Pura Gunung Kawi, Bali. Pura Gunung Kawi itu dibangun oleh Raja Anak Wungsu pada tahun 1000 Masehi dalam rangka menyambut Milenium kedua. Pura itu adalah satu-satunya candi di Indonesia yang dipahat pada gunung batu. Candi itu terletak di lembah di Desa Tampak Siring, Karangasem, Bali. Untuk mencapainya, terlebih dahulu kita harus menapaki 230 anak tangga.

MOMEN indah matahari terbenam dan terbit saat pergantian tahun 1999 ke 2000, dapat disaksikan secara langsung di layar kaca Indosiar, di mana mereka akan menayangkan pagelaran spektakuler Bali Artventures 2000 dari Bukit Jimbaran, Bali. Bali Artventures 2000 akan mengajak orang "berpetualang" menikmati berbagai kesenian Indonesia.

Acara tersebut akan menampilkan kolaborasi eksotika panggung alam dan seni bertempat di sebuah lapangan yang diolah menjadi 'landscape' yang demikian eksotis, namun sarat dengan nuansa seni Indonesia. Di Plaza Garuda Wisnu Kencana (GWK) di wilayah bukit bebatuan cadas di puncak Jimbaran-Bali itulah, akan didirikan sebuah patung raksas akarya seniman I Nyoman Nuarta, Garuda Wisnu Kencana yang tingginya kurang lebih 146 meter.

Pertunjukan (waktu itu) akan dibagi dua: siaran langsung ('on air') dan pertunjukan off air. Acara secara keseluruhan (waktu itu) akan berlangsung selama sekitar 12 jam. Dimulai dari menjelang terbenamnya matahari 31 Desember 1999 pukul 17.00 WITA (16.00 WIB) sampai dengan terbitnya matahari 1 Januari 2000 pukul 05.30 (04.30 WIB). Tidak kurang dari 550 artis dan pendukung acara (waktu itu) bakal tampil menyemarakkan pagelaran tersebut. Penekanan kekhasan budaya Indonesia, terutama Bali (ketika itu) akan terasa pada tiap tampilan tari, lagu, maupun musik.

Pertunjukan tersebut (waktu itu) akan menampilkan berbagia acara di antaranya Satu Jam Bersama Kla Project, P-Project Parodi Show, Movie-Musical Show, Perkusi Bali, Gelar Jalanan Seniman Bali, Gelar Musik dan Tari Jegog, dan gemerlap kembang api.

Indosiar (waktu itu) akan menyiarkan secara langsung tiga momentum, yakni saat matahari tenggelam, 'countdown' masuk tahun 2000 pukul 00.00 dan saat matahari terbit. Saat menjelang matahari tenggelam, acara (waktu itu) akan dimulai pukul 18.30-19.00 WITA (17.30-18.00 WIB). Paket ini (waktu itu) akan diawali dengan doa dan dimeriahkan tarian pembuka yang dibawakan 50 penari Anak Agung Gede Oka Dhalem. Dimeriahkan kehadiran para artis ibukota, saat 'countdown' menuju tahun 2000, semua artis (waktu itu) akan meniup bia dan menabuh tifa.

Sementara itu, rangkaian acara akhir tahun 1999 yang (waktu itu) akan ditayangkan TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) - waktu itu - akan diselingi 'statement' yang dilontarkan para tokoh atau wakil umat dari berbagai agama mengenai makna pergantian tahun dipandang dari sudut agama masing-masing, agar pemirsa tidak hanyut oleh kemeriahan pesta tutup tahun, melainkan agar juga dapat merenungi maknanya dari sisi yang lebih religius.

Adapun puncak acara digelar TPI di dua tempat: Jakarta dan Bali. Namun berbeda dengan stasiun televisi lain yang mengarahkan acaranya dari sudut pandang yang lebih global dan 'go international', TPI justru memusatkan perhatiannya kepada pemirsa Indonesia dengan pendekatan budaya khas Indonesia. Acaranya sederhana, tidak 'glamour'.

Dari Art Centre-Denpasar, Bali, 31 Desember 1999 pukul 21.30, TPI menggelar siaran langsung dengan mengusung artis-artis pop dan dangdut, antara lain Koes Ploes, Moneta, Meggy Z, Lilis Karlina, Moneta Grup, dan Bali Dancer.

Sedangkan dari Alun-Alun Tugu Api Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, (waktu itu) akan ditayangkan siaran langsung yang menghadirkan Rhoma Irama dan Soneta Grup, serta Cici Faramida. Acara (waktu itu) akan dilanjutkan dengan pergelaran wayang kulit dengan dalang Laksamana TNI (Purn) Ali Mulyo yang mengetengahkan lakon Aji Naruntaka dengan bintang tamu Kirun dan Sunyahni.

Comments

Popular posts from this blog

"TPI Dua Tahun" (Tempo, 23 Januari 1993)

Throwback to New Year's Eve 30 Years Ago (1991-1992)